Dwi Sono

Nama DWI SONO

Tempat Tanggal Lahir Jakarta, 1 Januari 1986

Orang Tua

Tahun Masuk 1 November 1991

Kecacatan

  • Cerebral Palsy (Disfungsi otak)
  • Mental Retardasi
  • Tuna Wicara
  • Lumpuh
  • Spastik

Dwi Sono adalah anak laki-laki yang kelahirannya tidak dikehendaki oleh kedua orang tuanya. Ia dilahirkan kira-kira pada tahun 1986. Mengapa kami mengatakan demikian? Tentu kami mempunyai alasan yang dapat ipertanggungjawabkan.

Kronologis Dwi Sono masuk Panti Cacat Ganda WTG Palsigunung:

Kami mendapat atau menerima bayi laki-laki yang sekarang bernama Dwi Sono dari pihak kepolisian. Menurut berkas laporan yang ada di kepolisian, bayi laki-laki ini ditemukan oleh seorang satpam di tempat sampah yang berada di belakang RS. Fatmawati. Kemudian bayi mungil tersebut diserahkan ke panti balita oleh pihak kepolisian. Karena tidak jelas keberadaan orang tuangnya maupun bidan/rumah bersalin tempat dilahirkannya, maka ditetapkan tanggal 1 Januari 1986 sebagai tanggal kelahirannya dan diberi nama Dwi Sono.

Kini Dwi Sono kecil dirawat di panti balita. Pada saat umur 2 (dua) tahun, Dwi Sono sakit. Kemudian dibawa ke dokter dengan harapan dapat segera sembuh. Menurut dokter Dwi Sono harus dirawat secara instensif di rumah sakit. Manusia boleh berusaha dan berharap, namun keputusan tetaplah di tangan Allah SWT. Ternyata setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit, dokter yang bertugas merawat Dwi Sono memberikan diagnose yang tidak baik. Dwi Sono dinyatakan mengidap beberapa penyakit dan mengalami kecacatan. Sungguh malang memang nasib yang dialami oleh Dwi Sono, kelahirannya sudah tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya dan dibuang di tempat sampah, pada usia 2 tahun juga harus mengalami kelumpuhan, epilepsi, tidak bisa bicara dan kelainan otak (otak abnormal). Setelah pihak rumah sakit memperbolehkan dibawa pulang, maka Dwi Sono yang malang dirawat dan diasuh di panti balita.

Karena kondisi Dwi Sono yang semakin hari menunjukkan gejala cacat permanen, mulailah pihak panti balita mengalami kesulitan. Hal ini menyebabkan pihak panti balita berusaha mencari solusi yaitu dengan mengirim Dwi Sono ke sebuah panti khusus yang merawat anak-anak cacat. Dan akhirnya pada tanggal 1 November 1991 Dwi Sono yang malang menjadi anggota keluarga Panti Cacat Ganda WTG Palsigunung.

Selama berada di WTG Palsigunung:

Sampai dengan saat ini, Dwi Sono telah bersama kami di WTG Palsigunung 19 tahun dan usianya kini mencapai 24 tahun. Dwi Sono memiliki sifat yang keras jika menginginkan sesuatu. Dia selalu marah jika keinginannya tidak terpenuhi. Bentuk kemarahannya dapat berupa mogok makan maupun tidak mau mengerjakan apa-apa termasuk menggerakkan badannya. Padahal jika dipikir, dia tidak dapat berkomunikasi dengan normal. Komunikasinya dilakukan dengan cara sangat terbatas misalnya dengan menggunakan telunjuk atu ibu jarinya saja untuk meminta sesuatu atau menunjukkan sesuatu. Hal ini yang menjadi tugas berat bagi kami khususnya pramurawat yang bertugas di WTG Palsigunung.

Karena kondisi yang cacat, Dwi Sono tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari sendiri. Makanpun harus disuapi. Semua kebutuhan dan aktifitasnya masih memerlukan bantuan dari pramurawat. Meskipun sifat dan sikapnya sering membuat kami jengkel, namun dia masih mempunyai sedikit yang dapat membuat hati kami gembira yaitu jika dia mendapatkan sesuatu yang diinginkannya atau disukainya maka dia akan tersenyum lebar dengan mata bersinar. Sikapnya mejadi manis, menjadi anak yang penurut. Inilah sering membuat kami menjadi semangat kembali untuk merawatnya dan sayang kepadanya.

Bagaimanapun keadaannya, Dwi Sono adalah anggota keluarga besar WTG Palsigunung. Dan sampai dengan sekarang belum ada orang atau keluarga yang mau berkunjung dan bersedia mengakui bahwa Dwi Sono adalah anaknya atau keluarganya. Apakah mungkin WTG Palsigunung menjadi rumahnya hingga dia dipanggil oleh Yang Kuasa? Hanya Allah SWT yang tahu, kami hanya bisa berusaha dan berharap semoga ibu yang melahirkannya dapat mengetahui dan bersedia mengambil kembali anak yang pernah dilahirkannya.

THERAPHY yang pernah diberikan:

  • Psiko-theraphy:
    • Memberikan sentuhan kasih sayang dan selalu diajak bernteraksi, dimaksudkan untuk merangsang syaraf-syaraf otaknya untuk bekerja.
    • Memberikan rangsangan sakit dan hadiah untuk menggugah perasaannya.
    • Dan lain-lain.
  • Fisio-theraphy:
    • Memberikan pijitan-pijitan pada bagian-bagian tubuh tertentu guna merangsang syaraf-syarafnya
    • Mengikuti theraphy menggunakan alat untuk melenturkan tubuhnya /mengurangi kekakuan
    • Dan lain-lain
  • Speech-theraphy:
    • Melatihnya berbicara dan dipadu dengan bahasa isyarat / bahasa tubuh.
  • Theraphy gabungan yaitu dengan menggabung beberapa theraphy menjadi satu kegiatan, yaitu mengajaknya berbicara atau berkomunikasi.
  • Mengikuti pelajaran di kelas yaitu menyusun puzzle dan sebagainya.
  • Pemberian obat-obatan sesuai resep dokter untuk memfungsikan kembali syaraf-syarafnya dan ini telah dihentikan. Sekarang tidak mengkonsumsi obat-obatan kecuali sakit.
  • Pemberian suplemen makanan dan minuman untuk membantu dan mempercepat kinerja syaraf-syaraf yang sudah mulai kembali bekerja sesuai anjuran dokter yang bertugas di WTG Palsigunung.
  • Memberikan makanan dan minuman yang memenuhi gizi empat sehat lima sempurna.

KONDISI SEKARANG :

  • Secara umum Dwi Sono dalam kondisi sehat selain kecacatannya.
  • Dwi Sono masih dalam keadaan lumpuh, tidak dapat berjalan. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari masih memerlukan bantuan pramurawat.
  • Untuk berkomunikasi, Dwi Sono menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh.
  • Jika tidak sedang ditheraphy, Dwi Sono hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Rumah Piatu

<em>Lembaga Rumah Piatu Muslimin (LRPM) merupakan organisasi social yang independen dan tidak berada di bawah naungan kelompok keagamaan ataupun organisasi / partai politik tertentu.</em>